Ini salah satu artikel yang gue suka banget dari penulis favorit gue.. Goenawan Mohamad, yang gue baca di bukunya Catatan Pinggir 1, dari warisan bokap (ngembat tepatnya) hahaha.... okelah enjoy : )
" Pak Susman
mengajar geometri untuk SMP Negeri yang dipimpinnya. Ia seorang guru yang akan
dikenang para muridnya seumur hidup. Sebab pada suatu hari ia tiba-tiba
bertanya: “Untuk apa kamu belajar ilmu ukur?”. Adapun yang ditanyainya adalah murid-murid
kelas satu yang kedinginan oleh angin.
Waktu itu
hari mendung. Dan seperti setiap hari mendung, kelas di gedung bekas kamar bola
Belanda di kota P itu gelap. Dan Pak Susman, dengan mata yang mulai tua tapi
berwibawa, nampak kian angker dengan yang pertanyaannya yang mustahil dijawab.
Untuk apa
belajar ilmu ukur?
Tapi pak kepala sekolah itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun seperti bergumamm, ketika ia menyelesaikan sendiri tanda tanya yang ia lontarkan tadi: “Kamu semua belajar ilmu ukur bukan untuk jadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yaitu teratur.”
Lalu, dengan
antusiasme mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Suatu soal misalnya
menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui dari sebuah bangunan geometri. Ada
rumus-rumus yang menyimpulkan pelbagai hubungan dalam bangunan seperti itu.
Nah, jika anak-anak diminta membuktikan suatu hal dari soal itu, maka mereka
harus berpikir secara teratur: dari hal-hal yang sudah diketahui, sampai
kesimpulan yang bisa ditarik.
Yang menakjubkan bukan saja ia dapat menjelaskan proses berpikir logis itu dengan gamblang di hadapan sejumlah bocah kedinginan yang berumur 13 tahun. Yang juga mengagumkan ialah bahwa ia, seorang kepala sekolah yang tak dikenal, di sebuah SMP bergedung buruk, dalam sebuah kota yang tak penting, ternyata bisa menanamkan sesuatau yang sangat dalam. Yakni: apa sebabnya tujuan pendidikan sekolah.
Pak susman
meninggal kira-kira 20 tahun yang lalu. Seandainya ia masih hidup, dan bertemu
dengan bekas muridnya yang lintang-pukang menyiapkan diri untuk ujian SKALU,
barangkali ia juga akan bertanya: “Untuk apa semua itu?”
Ya, untuk apa?
Ada sebuah sandiwara Keagamaan TVRI beberapa waktu yang lalu. Seorang ayah menanyai ketiga anaknya, dengan pertanyaan yang mirip: “Apa cita-citamu? Apa tujuanmu sekolah?”
Yang pertama
menjawab: “Saya akan jadi pemilik pabrik paku.” Yang kedua menyahut: “Saya akan
jadi rohaniwan.” Yang ketiga berkata: “Saya akan jadi sarjana.”
Jawaban yang pertama, “pemilik pabrik paku.” Adalah spesifik, jelas, terperinci. Jawaban yang kedua juga tak memerlukan tanda tanya baru. Tapi jawaban “Saya akan jadi sarjana” terasa belum selesai. Diucapkan dalam bahasa indonesia masa kini, kata “sarjana” adalah sebuah pengertian yang melayang-layang. Kita tak bisa menyama-artikannya dengan kata scholar. Atau scientist. Arti “sarjana” yang lazim kini tak lain dan tak bukan hanyalah: “lulusan perguruan tinggi.”
Maka jika Anda masuk sebuah perguruan tinggi, karena bercita-cita menjadi “sarjana” , itu samalah kira-kira jika Anda melangkah, karena ingin berjalan. Sudah semestinya.
Kekaburan
itu terjadi agaknya bukan Cuma karena kekacauan pengertian “sarajana”. Tapi
juga karena sejumlah ilusi. Ilusi yang terpokok ialah ilusi tentang pendidikan
sekolah serta tujuannya. Sudah tentu salah bahwa tujuan bersekolah di
universitas adalah untuk mendapatakan gelar. Tapi tak kurang salahnya untuk
mengira bahwa di universitas orang akan menemukan pusat ilmu, ataupun puncak
pendidikan keterampilan.
Seabab bak
kata Rasul Tuhan, orang harus mencari ilmu dari buaian sampai ke liang lahad.
Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur
hidup”. Seorang doktorandus, seorang Ph.D., barulah mengambil bekal untuk
perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai – juga belum selesai
bodohnya.
Karena itu
seandainya Pak Susman masih hidup, ia pasti akan bilang: “Kamu masuk
universitas, itu supaya bisa terlatih berpikir ilmiah.” Itu saja, kalau dapat..... "
19
Agustus 1978
No comments:
Post a Comment